Buka Pangkung Karung Kite Festival III, Ketua DPC PDIP Tabanan Sanjaya Dorong Budaya dan Ekonomi Kerakyatan

IMG-20260914-WA0081

TABANAN – Bupati Tabanan sekaligus Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Tabanan, Dr. I Komang Gede Sanjaya, S.E., M.M., membuka Pangkung Karung Kite Festival III Tahun 2026 di Area Subak Serongga, Desa Pangkung Karung, Kecamatan Kerambitan, Minggu (13/9/2026). Festival layang-layang tersebut menjadi ruang pertemuan masyarakat dan komunitas dari berbagai daerah sekaligus memperkuat pelestarian permainan tradisional, kreativitas, serta semangat gotong royong.

Kegiatan yang telah memasuki penyelenggaraan tahun ketiga ini diikuti 920 peserta yang berasal dari Kabupaten Tabanan, Badung, Gianyar, Jembrana, dan Kota Denpasar. Kehadiran ratusan peserta tersebut menunjukkan bahwa permainan tradisional layang-layang masih memiliki daya tarik kuat sekaligus mampu menjadi ruang interaksi lintas komunitas.

Dalam kapasitasnya sebagai kepala daerah, Sanjaya menegaskan dukungan Pemerintah Kabupaten Tabanan terhadap berbagai kegiatan masyarakat yang memiliki nilai budaya, kreativitas, kebersamaan, sekaligus memberikan dampak terhadap perekonomian lokal. Sementara sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Tabanan, ia juga menempatkan semangat gotong royong, kebersamaan dan pelestarian budaya sebagai nilai yang penting untuk terus tumbuh di tengah masyarakat.

“Saya memberikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada panitia, para tokoh masyarakat, serta seluruh pihak yang telah menggagas dan menyelenggarakan Pangkung Karung Kite Festival ini. Kehadiran peserta dari berbagai kabupaten dan kota menunjukkan bahwa kegiatan ini memiliki daya tarik yang luar biasa. Ribuan masyarakat datang ke Desa Pangkung Karung, dan tentu ini menjadi kebanggaan bagi kita sebagai masyarakat Tabanan,” ujar Sanjaya.

Menurut Sanjaya, kegiatan berbasis masyarakat seperti festival layang-layang tidak semata-mata berkaitan dengan perlombaan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman. Proses pembuatan hingga menerbangkan layang-layang membutuhkan keterampilan, kreativitas, kesabaran, kerja sama dan gotong royong.

Nilai tersebut, menurutnya, memiliki relevansi kuat dengan kehidupan masyarakat Bali yang sejak dahulu mengedepankan kebersamaan dalam menjalankan berbagai aktivitas sosial dan budaya.

“Kegiatan seperti ini tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga mampu menghidupkan perekonomian masyarakat, terutama UMKM di sekitar lokasi. Membuat sebuah layang-layang hingga dapat diterbangkan tinggi membutuhkan proses yang panjang, kreativitas, kerja sama dan gotong royong. Nilai-nilai inilah yang harus terus kita jaga,” jelasnya.

Sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Tabanan, Sanjaya juga melihat bahwa kegiatan masyarakat di tingkat desa dapat menjadi bagian penting dalam membangun ruang kebersamaan. Festival tersebut mempertemukan masyarakat, komunitas, generasi muda, pelaku UMKM, serta berbagai kelompok dari luar Tabanan dalam suasana yang positif.

Sanjaya pun mendorong agar Tabanan terus membuka ruang bagi berbagai komunitas untuk berkegiatan. Menurutnya, karakter masyarakat Tabanan yang terbuka dan ramah menjadi modal sosial untuk menjadikan daerah tersebut sebagai tempat berkumpulnya berbagai komunitas.

“Kami ingin Tabanan menjadi salah satu titik berkumpul bagi berbagai komunitas, baik komunitas layang-layang, mancing, otomotif, maupun komunitas lainnya. Silakan datang dan berkegiatan di Tabanan. Pemerintah bersama masyarakat Tabanan tentu sangat terbuka dan menyambut kehadiran masyarakat dari berbagai daerah. Inilah bagian dari keramahan dan semangat kebersamaan yang kita miliki,” ungkapnya.

Ia menambahkan, semakin banyak kegiatan positif yang tumbuh di desa akan semakin banyak pula ruang bagi masyarakat untuk berkreasi, berinteraksi dan mengembangkan potensi ekonomi. Karena itu, pemerintah daerah terus mendorong kegiatan yang mampu menghubungkan pelestarian budaya dengan pemberdayaan masyarakat.

“Kita ingin budaya tetap hidup, masyarakat tetap bergerak, generasi muda memiliki ruang untuk berkreativitas, dan ekonomi masyarakat juga ikut tumbuh. Ini semangat yang harus kita bangun bersama melalui kebersamaan dan gotong royong,” imbuhnya.

Festival tahun ini mempertandingkan 17 kategori layangan dengan penilaian yang dilakukan secara objektif oleh dewan juri. Panitia juga menyiapkan dua piala bergilir Desa Pangkung Karung, piagam penghargaan bagi para juara, satu piala bagi pengirim peserta terbanyak, serta enam piala untuk masing-masing kategori dan penghargaan.

Ketua Panitia Pangkung Karung Kite Festival III, I Wayan Arjawa, menyampaikan terima kasih atas dukungan Pemerintah Kabupaten Tabanan dan kehadiran Bupati Sanjaya dalam pembukaan kegiatan. Ia menjelaskan bahwa festival tersebut digelar sebagai wadah pelestarian permainan tradisional layang-layang, mempererat tali silaturahmi antarwarga, serta menumbuhkan kreativitas dan sportivitas generasi muda.

Sanjaya berharap Pangkung Karung Kite Festival dapat terus diselenggarakan secara berkelanjutan dan berkembang menjadi agenda budaya yang semakin dikenal luas. Bahkan, ia berharap ke depan festival tersebut mampu menarik lebih banyak pecinta layang-layang dari berbagai daerah hingga mancanegara.

Dengan memanfaatkan hamparan persawahan Subak Serongga sebagai ruang kegiatan, festival ini sekaligus memperlihatkan bagaimana budaya, komunitas, ruang pertanian, kreativitas masyarakat dan aktivitas ekonomi dapat berjalan beriringan.

Bagi Sanjaya, kekuatan kegiatan seperti Pangkung Karung Kite Festival bukan hanya terletak pada jumlah peserta, tetapi pada semangat kebersamaan masyarakat dalam menjaga tradisi dan menciptakan ruang positif bagi generasi berikutnya.

What do you feel about this?